Pemuda Ini Berhasil Mengolah Bambu dan Menghasilkan Rp 300 Juta Sekali Jual

Pemuda Ini Berhasil Mengolah Bambu dan Menghasilkan Rp 300 Juta Sekali Jual

Pemuda Ini Berhasil Mengolah Bambu dan Menghasilkan Rp 300 Juta Sekali Jual – Memiliki kreativitas yang mumpuni dan intuisi yang baik, adalah sebuah karunia dari Tuhan agar manusia dapat mengarung kehidupannya di dunia dengan baik. Kombinasi dari kedua kemampuan ini yang dimiliki oleh pria bernama Adang Muhidin. Bambu yang selama ini sering dipandang sebelah mata, kini bisa menjadi jauh lebih bernilai. Oleh pria ini, tanaman yang sangat mudah dijumpai di Indonesia itu berhasil diubah menjadi sebuah alat musik modern.

Baca juga : 5 Film Musikal Paling Keren Sepanjang Masa

Hebatnya, karya seninya ternyata diminati oleh kalangan wisatawan mancanegara selama beberapa tahun terakhir. Dipilihnya bambu sebagai bahan kerajinan, membuat Adang teringat akan masa lalunya dulu. Sebelum bergelut dengan usahanya saat ini, ia ternyata pernah menjadi seorang kontraktor dengan beberapa bengkel sebagai tempatnya bekerja. Nahas, bisnisnya itu ternyata tak kunjung berkembang dan akhirnya bangkrut.

Di tengah perenungannya, Adang secara tak sengaja melirik bambu liar yang tumbuh di pinggir jalan. Naluri kreativitasnya pun mulai muncul. Ia yakin, tanaman tersebut bisa diolah menjadi sesuatu yang berbeda. Terinspirasi dari biola yang sering ia lihat pada konser musik Adie MS di layar kaca, Adang pun mulai mencoba membuat alat musik gesek itu dengan menggunakan bambu. Sempat mengalami kegagalan berkali-kali, hingga pada 2014 lalu ia berhasil membuat biola pertamanya.

Alat musik hasil kreasinya itu, ternyata diminati oleh seorang turis asal Jepang. Pertemuan itu terjadi saat sang wisatawan tengah berkunjung ke acara komunitas bambu yang dihadiri olehnya. Adang pun mengaku tak siap saat ditanya berapa harga dari biola buatannya. “Saya bilang saja Rp 3 juta, spontan kasih harga segitu. Setelah terjual, saya mulai percaya diri, lalu bikin alat musik yang lain kayak gitar, bas, drum set, saxophone, kecapi, dan cello,” ujar Adang.

Dari pengalaman itu, Adang pun mulai serius membuat aneka alat musik dari bambu. Padahal, saat pertama kali menekuni usahanya, Adang hanya bermodal uang sebesar Rp 100 ribu. dana itu digunakanya untuk membeli bor seharga Rp 52 ribu dan perlengkapan lain seperti lem dan senar. Produk alat musik buatannya itu diberi nama Viragiawe.

Untuk memasarkan alat musik bambu miliknya, Adang aktif mengakses Facebook agar produknya bisa dikenal. Pada 2015 silam, ia bahkan diundang untuk pameran ke sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, Belanda. Sekali berangkat ke luar negeri, Adang dan timnya mampu mengeruk keuntungan paling sedikit Rp 100 juta dari penjualan alat musiknya. Bahkan, ia pernah mengantongi pemasukan hingga Rp 300 juta sekali pameran. Untuk keuntungan penjualan via online, Adang dapat meraih omset sebesar Rp 100 juta dalam sebulan.

Atas keberhasilan yang diraihnya, Adang senantiasa meyakinkan kepada masyarakat Indonesia agar jangan terlalu berharap banyak kepada pemerintah. “Saya yakin, Indonesia orangnya hebat-hebat. Semuanya hebat, kerajinan tangannya juga hebat, cuma mungkin pada belum berani muncul saja,” ujarnya. Ia bahkan menekankan agar para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk selalu berinovasi serta memanfaatkan teknologi agar bisa membuat karya yang baik. Sama seperti apa yang telah dilakukan olehnya.

Inilah bentuk keberhasilan nyata dari sebuah inovasi yang dibalut kreativitas. Tak hanya menciptakan sebuah karya seni, tapi juga telah berhasil mengubah nasib bagi mereka yang berusaha. Sama seperti Adang Muhidin, semua orang berhak untuk sukses mengikuti jalur takdirnya masing-masing